The SOCIAL HOUSE : ada untuk kebersamaan

social title small

Setelah menembus jalur macet Tanjung priok, dengan melintasi jalan- jalan tikus, akhirnya sampailah saya di daerah Cilincing. Panas terik menghantam kepala, tapi suara anak-anak bernyanyi membuat suasana menjadi lebih sejuk dihati. Kepala boleh panas hati tetap dingin katanya….. Memasuki halaman rumah sederhana mulai disambut penjual kue pancong, penjual mainan anak dan kerumunan ibu- ibu, sementara  anak-anak yang sedang duduk di lantai terlihat mengikuti pelajaran menyanyi dari pintu depan rumah. Inilah rumah sosial Karya Kerasulan Vincensian Atmabrata

Suasana di rumah karya Atmabrata

Suasana di rumah karya Atmabrata

The social house

Mengutip dari history yang saya dapatkan : Karya sosial Atmabrata adalah sebuah pelayanan bagi warga miskin di kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Rumah pelayanan ini adalah milik Gereja Salib Suci, Keuskupan Agung Jakarta, yang memulai karya pelayanannya sejak tahun 1978 dengan memberikan pelayanan pada penanganan keluarga miskin dan pembeian beasiswa bagi anak- anak kurang mampu. Pada awal 2010 atas prakarsa pastor paroki Romo Wahyuliana CM, Atmabrata dihidupkan kembali dengan memberikan berbagai macam karya sosial yang lebih beragam. Penanggung jawab saat ini diberikan kepada seorang Bruder Petrus PSS.

Bruder Petrus

Bruder Petrus

Beberapa kegiatan yang dijalankan :

  1. Rumah Pangan Bagi Lansia : Memberikan makan dan minuman sehat buat para lansia dengan mengunjungi dari rumah kerumah
  2. Rumah Pendidikan : Memberikan pendidikan tambahan kepada anak- anak kurang mampu, saat ini Atmabrata memiliki tiga lokasi yaitu : Sekolah Empang di Kampung Sawah, sekolah Bambu di Bulak Cabe dan di Kelapa dua.
  3. Rumah Kesehatan : Memiliki klinik di jalan kelapa dua dengan tenaga seorang mantri kesehatan. Biaya periksa dan obat sangat murah hanya 5000 sd 10.000.
  4. Rumah Pangan Sembako : Pengadaan sembako murah bagi warga terbelakang, orang tua murid, masyarakat miskin dan anggota koperasi
  5. Rumah Sandang : Kegiatan penjualan baju layak pakai dengan harga sangat murah
  6. Rumah koperasi Simpan Pinjam : Koperasi simpan pinjam bagi warga kurang mampu dengan kisaran 500.000 sd 1.000.000 sebagai pinjaman modal usaha
  7. Rumah Pengolahan Reffil Plastik : Menggerakan ibu-ibu rumah tangga yang tidak memiliki pekerjaan dalam pembuatan tas dan aneka barang dengan bahan baku limbah refill plastik.
Suasana belajar bersama

Suasana belajar bersama

The Unity

Memasuki social house, disambut oleh bruder energic yang bicaranya ceplas- ceplos akrab, beda sama stereotype pada umumnya bruder yang saya jumpai. “Pak guru” demikian bruder menyebut dirinya dengan sabar membantu satu persatu murid-murid kecilnya mengerjakan tugas origami. Terlihat anak- anak mulai membentuk lingkaran mengerubuti Bruder dan mulai menyorongkan tangan-tanganya ke pak guru kesayangan.

Ceria

Ceria

Suatu bentuk keakraban yang sudah terjalin dalam lingkungan yang tanpa sekat dan batasan. Sebuah sekat dan batas yang sudah hilang menembus perbedaan-perbedaan sosial yang ada. Perbedaan kaya-miskin, agama, etnis dan kasta- kasta sosial hilang di rumah ini, semua menyatu dalam kebersamaan.

"saya...saya...saya....bu guru"

“saya…saya…saya….bu guru”

Terlihat anak-anak dari beragam etnis menyatu, bahkan beberapa ibu-ibu berkerudung menyekolahkan anaknya di rumah ini. Para pelayan yang berbagai etnis, dari batak, chinese, betawi dan bahkan brudernya dari Prambanan Klaten semua menyatu dalam semangat. Sekali lagi terbukti bahwa suatu gerakan kasih dalam kebersamaan akan menembus dan memecahkan sekat dan batas perbedaan ciptaan manusia.

The Ompong Boy

The Ompong Boy

Sekolah Bambu

Dari rumah Atmabrata saya menyusuri kembali jalanan padat sekitaran Cilincing. Memasuki tepian sungai, jalan mulai menyempit hanya bisa dilalui dua kendaraan kecil, bau amis khas kampung nelayan mulai masuk menembus mobil. Sungai yang berair hitam penuh dengan sampah, kios kecil berdiri di bantaran sungainya, rumah-rumah hunian sederhana dan tumpukan kontainer diseberang sungai menjadi pemandangan sepanjang perjalanan menuju sekolah bambu. Sekitar 45 menit menyusuri jalan, yang penuh dengan fragmen kehidupan orang pinggiran, akhirnya saya sampai di daerah sekolah bambu.

Sekolah bambu ku

Sekolah bambu ku

Sekolah bambu, sebutan buat sekolah sederhana asuhan Atmabrata karena ruang kelas yang terbuat dari bangunan semi permanen dan dinding kelasnya terbuat dari bambu. Kelas pertama berada di tepi jalan, lebih mirip seperti posko-posko sementara atau gudang penyimpanan.

Tanpa meja kursi, beralaskan bumiku

Tanpa meja kursi, beralaskan bumiku

Kelas ini hanya memiliki dua jendela kecil sehingga ruangan menjadi gelap dan panas untuk belajar mengajar yang layak. Hari itu ruang kelas dijejali sekitar 30 an anak-anak, mereka duduk di lantai, karena memang tidak terdapat mejankursi seperti layaknya ruang kelas pada umumnya. Seorang guru perempuan berlogat batak dengan semangat, mengajar anak-anak belajar berhitung. Ruang kelas ini untuk anak- anak setara kelas 1.

ini kelasku....

Ini kelasku….

Menyusuri jembatan bambu menyusuri sungai terdapat Kelas kedua di selasar rumah warga. Ruang kelas semi terbuka ini menampung lebih banyak anak, dan umumnya sudah setingkat sekolah dasar kelas 3 dan 4,  hari itu berkumpul sekitar 100 an anak yang diajar oleh tiga orang guru pembimbing.

Menunggu anakku

Menunggu anakku

Memasuki ruang kelas ketiga di halaman rumah warga di sebelah kelas kedua, suasana kelas lebih kecil dan dijejali oleh anak-anak setara kelas 2 SD. Halaman rumah warga ini dipenuhi oleh 20an anak yang sedang belajar membaca. Semua terlihat ceria khas dunia anak-anak,  tak ada perasaan minder dan terpinggirkan, semua adalah sama, equal !

Di balik pagar cita

Di balik pagar cita

The spirits.... keep on burning

The spirits…. keep on burning

Sekolah Taman Bacaan

Tidak jauh dari sekolah bambu saya kembali menelusuri lorong-lorong kecil di sepanjang tepi sungai menuju sebuah sekolah taman bacaan. Memasuki sebuah ujung lorong mulai terdengar anak-anak bernyanyi dan terlihat banyak ibu-ibu yang menunggui anaknya yang sedang belajar. Kelas ini lebih dikhususkan untuk anak-anak taman kanak-kanak.

"Ayo siapa berani maju kedepan ?"

“Ayo siapa berani maju kedepan ?”

Ilmuku kugantungkan pada hero-hero ku

Ilmuku kugantungkan pada hero-hero ku

Kelas-kelas selalu ramai, banyak keluarga yang berharap pada karya sosial ini

Kelas-kelas selalu ramai, banyak keluarga yang berharap pada karya sosial ini

Uniknya ruang kelas ini menggunakan sebuah ruang taman bacaan milik yayasan Muslim, sungguh suatu kekuatan kebersamaan yang melintasi sekat-sekat agama. Atas nama kemanusiaan dalam kebersamaan kita semua adalah sama! Equal!

Sekolah Empang

Sekolah empang jaraknya lebih jauh dari sekolah bambu, menyusuri lebih dalam lagi, dan akhirnya masuk ke jalan yang aspalnya mulai mengkikis semua. Kurang lebih sekitar 500 meter, saya harus turun dari mobil karena jalan sudah tidak bisa dilalui. Saya harus menyusuri lorong-lorong di kampung, sambutan hangat masih terasa di kampung, agak terkejut karena biasanya hal seperti ini hanya dijumpai di kampung saya.

Sekolah empang ku

Sekolah empang ku

Tetangga sekolah

Tetangga sekolah

Setelah melewati lorong akhirnya saya mulai memasuki daerah lorong yang terlihat tumpukan kontainer di balik temboknya, tak jauh dari situ terlihatlah sekolah empang yang mungil berdiri di atas kolam. Walaupun kecil tapi bangunannya cukup menarik, saya yakin anak-anak akan menyukai karena gaya-gaya rumah panggung yang mirip rumah pohon. Siang itu saya melihat kegiatan belajar-mengajar sedang berlangsung dipandu oleh 2 orang  relawan guru, murid-murid di kelas empang lebih ke anak-anak umur Taman kanak-kanak.

Dalam pigura kenangan

Dalam pigura kenangan

Wajah kecil kita : fragile!

Wajah kecil kita : fragile ! 

Rumah Pangan buat Lansia

Siang itu sudah disiapkan bungkusan-bungkusan ransum dalam plastik putih, saya lihat di dalamnya ada susu ultra, nasi putih, sayur, buah dan daging, pokoknya 4 sehat 5 sempurna. Beberapa relawan mulai bersiap untuk berkeliling mengunjungi para lansia untuk membagikan ransum makan siang, saya ikut salah satu dari mereka mengunjungi 4 orang lansia. Dengan membonceng motor saya mulai masuk-masuk gang sempit yang hanya bisa dilalui motor. Sungguh trenyuh melihat keadaan para lansia di lingkungan ini, banyak yang kondisinya kurang diperhatikan, tetapi kadang saya harus bisa memahami semua ini karena faktor kondisi ekonomi keluarga, mereka mungkin sudah memberikan yang “the best” walaupun masih jauh dari yang kita harapkan.

Perhentian pertama, saya mampir di rumah seorang nenek yang tinggal sendiri, sementara yang merawat adalah keponakannya yang tinggal di samping rumahnya. Memasuki lorong rumahnya yang dingin, kosong tanpa perabotan dan sepi tanpa tanda kehidupan. Setelah memasuki kamarnya, sungguh hati saya luluh melihat nenek yang sudah pikun, sulit berkomunikasi dan sulit berjalan. Saya tidak bisa berkata-kata melihat kondisi beliau…. speechless… semoga kameraku mampu menggerakan kita untuk menyayangi ibu tercinta kita…

HOPe..... ( anybody care? )

HOPe….. ( anybody care? )

Perhentian Kedua, saya mulai menelusuri lorong kampung lagi, sampai pada suatu ujung rumah yang lapuk dan tak terawat. Ragu saya untuk memasuki rumah, seorang anaknya ternyata suadah familiar dengan kunjungan kami yang secara rutin memberikan asupan gizi dan pemeriksaan kesehatan. Kemudian seorang cucunya mengajak kami masuk untuk menemui nenek tercintanya, terlihat seorang nenek yang sudah sangat renta tidur terkulai di kasur yang sudah mengeras dan lembab. Beliau membuka matanya melihat kearah kami, mengenali dan terlihat gurat raut gembira dalam lemahnya. Get Well Oma we care of you…

The volunteer : her truly friend

The volunteer : her truly friend

My Teddy to company you nenek.

My Teddy to company you nenek.

Pemberhentian ketiga, saya mendatangi seorang nenek yang waktu mudanya adalah penyanyi dan bahkan sering memenangkan lomba. Dimasa senjanya beliau terlihat kesepian walaupun hidup bersama dengan anaknya. Beliau menyambut kami sangat bersuka cita, dalam sakit kakinya beliau memaksakan diri untuk berdiri dan mengajak kami bernyanyi bersama, terlihat wajah bahagianya di sore hari itu. Kadang walaupun kita dekat secara fisik tetapi tanpa sentuhan kasih akan membuat kita “jauh” dan “sepi”.

Nenek sang penyanyi

Nenek sang penyanyi

Perhentian keempat, kembali menelusuri lorong-lorong kampung dengan sepeda motor yang kadang harus melambat karena sempitnya gang antar rumah. Kali ini kami menemui seorang nenek yang ramah dan ditemani seorang cucunya yang lengket dengan beliau,  seperti biasanya beliau langsung menyambut hangat dan akrab.

Dengan cucu tercinta

Dengan cucu tercinta

The Ending

Sehari mengunjungi rumah karya sosial Atmabrata dalam kebersamaan dengan lingkungannya, sungguh membukakan mata hati saya bahwa sekat-sekat sosial yang diciptakan manusia akan luluh dan terlepas atas nama kasih kepedulian dan kebersamaan. Juga satu hal yang masih membekas adalah “Cintailah orang tua kita”, kadang kehadiran kita saja tidak cukup tetapi sentuhan kasih lah yang lebih membahagiakan.

You are my Heart

You are my Heart

Sebuah perjalanan hidup pada fase anak belia dan fase manula adalah sisi fragile/rentan yang sangat bergantung pada kita yang masih”kuat” untuk menopang dan memberikan perhatian yang baik.

Apakah kita sudah berbagi kasih dalam kepedulian sosial terhadap sesama? Sekecil apapun nilainya jika tulus akan berguna buat yang membutuhkan…. Marilah kita renungkan.

Salam

Seblang : The Last Dance

seblang tittleBW

Kantuk makin terasa, pelan memacu mobil menembus kabut-kabut tipis yang berlarian di tanjakan jalan alas Kumitir,  Jember. Waktu sudah menunjukkan pukul 02:45 pagi, jalanan gelap dan senyap, rasa takut menyergap  melintasi alas Kumitir yang terkenal dengan cerita angkernya. Maju terus pantang mundur demi sebuah hunting foto Seblang. Creepy Zone !

Kesibukan menjelang

Kesibukan menjelang

Masih terlintas kemaren malam seorang teman sms mengatakan “Ada acara seblang di Banyuwangi, kalo mau hunting nyusul”, tanpa berpikir panjang booking Lion Air untuk penerbangan malam hari ke Surabaya. Esoknya sepulang kerja langsung tancap gas ke Bandara, titip mobil, dan terbang ke Juanda dengan sedikit delayed. Setelah menikmati nasi campur Sidoarjo, sekitar pukul 20:00 petualangan perjalanan darat dimulai. Lonely Joyride!

Omprok telah selesai

Omprok telah selesai

Sekitar jam 04:00 Neon sign Merah, Biru dan Kuning masih terlihat dari jauh meski kantuk dan letih mulai terasa, akhirnya menepikan mobil di depan Indomaret Jajag dan tidur di dalam mobil. Setelah lelap tanpa mimpi, sinar matahari pagi dan bunyi bising klakson mobil membangunkanku. Sekarang saatnya melanjutkan perjalanan ke  kota Banywangi yang tinggal 30 menitan. Hunting Time !

Omprok

Omprok

TENTANG SEBLANG

Seblang adalah sebuah ritual tarian masyarakat Osing di Banyuwangi. Ritual Seblang dilakukan sebagi bentuk bersih desa untuk menghindari bencana, musibah, musuh maupun roh jahat. Dengan menjalankan ritual ini diharapkan kehidupan desa akan aman, tenteram, damai dan sejahtera. Ritual semacam seblang umumnya juga dilakukan oleh masyarakat di pedesaan Jawa lainnya seperti : Ngalap Berkah, Petik Laut, maupun sedekah bumi. Sebagai perwujudan atas rasa syukur atas hasil pertanian maupun hasil laut dan sebagai selamatan untuk dimulainya sebuah musim tanam maupun musim melaut agar diberikan kelimpahan hasil.

dua tetua

Dua tetua

Menurut id-Wikipedia : Tari Seblang ini sebenarnya merupakan tradisi yang sangat tua, hingga sulit dilacak asal usul dimulainya. Namun, catatan sejarah menunjukkan bahwa Seblang pertama yang diketahui adalah Semi, yang juga menjadi pelopor tari Gandrung wanita pertama (meninggal tahun 1973). Setelah sembuh dari sakitnya, maka nazar ibunya (Mak Midah atau Mak Milah) pun harus dipenuhi, Semi akhirnya dijadikan seblang dalam usia kanak-kanaknya hingga setelah menginjak remaja mulai menjadi penari Gandrung.

Merenda masa dalam kenangan

Merenda masa dalam kenangan

Pada Jamannya ritual seblang dilakukan diseluruh desa di Banyuwangi, tetapi dengan perkembangan jaman satu persatu mulai punah. Ritual seblang saat ini hanya bisa dijumpai di dua desa saja yaitu desa Olehsari dan Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Bentuk ritual seblang kedua desa ini serupa tapi tidak sama yaitu :

Bersolek

Bersolek

A.      SEBLANG OLEHSARI

a.       Waktu pelaksanaan : seminggu setelah Idul Fitri

b.      Tempat : desa Olehsari

c.       Penari : gadis sebelum Akil Baliq

d.      Omprok/mahkota : dari daun-daun pisang

e.      Music : Kendang, gong, saron dan  tambahan Biola

Dua batas generasi

Dua batas generasi

B.      SEBLANG BAKUNGAN

a.       Waktu pelaksanaan : seminggu setelah Idul Adha

b.      Tempat : desa Bakungan

c.       Penari : perempuan yang sudah berhenti haid (menopause)

d.      Omprok/mahkota : dari bunga segar dari sekitar kuburan/kebun

e.      Music : kendang, gong dan saron

Dupa awal prosesi

Dupa awal prosesi

Seblang tidak terlepas dari ritual mistis karena menghadirkan roh halus sebagai “pengisi” sang gadis seblang.  Dalam upacara ini dukun-dukun yang bekerja memimpin upacara ritual, membaca mantra, memberikan sesaji dan membakar kemenyan hingga sang seblang “hidup”. Sang penari yang telah dirasuki roh diarak dari rumah dukun ke arena tari di lapangan desa. Sepanjang acara sang penari dalam kondisi “in Trance”, diiringi suara musik gendhingan, menari berputar mengikuti sang dukun dan menjalankan prosesi hingga akhir.

Langkah - langkah melintas

Langkah – langkah melintas

Acara ritual seblang diadakan selama 7 hari, dari hari kehari ritual yang diadakan kurang lebih sama, sedangkan pada hari terakhir ada sedikit perbedaan karena seblang akan diarak keliling desa sebagai bentuk ider bumi, semacam prosesi akhir membersihkan desa sebagai tolak bala.

Sebuah adat yang tetap menyatu

Sebuah adat yang tetap menyatu

JURNAL SEBLANG OLEHSARI

Seblang yang menjadi target hunting kali ini dalah Seblang Olehsari di kecamatan Glagah. Agak sulit untuk mencari desa Olehsari yang ternyata masih di pinggiran kota. Bertanya pada anak muda di pinggir jalan mereka sudah tidak fasih dengan kata seblang, mengandalkan sepanduk info sebagai suatu bentuk hajatan kota ternyata nyaris tidak ada, mungkin pemerintah daerah lebih senang acara fesival/karnaval fashion modern ? (entahlah), akhirnya setelah mencari tau dari bapak tua baru terjawab semuanya.

Janur melambai

Janur melambai, kendang dan gong telah siap

Panas sangat terik, kulit terasa tergigit matahari, menyusuri gang kampung di kota pesisir pantai. Terlihat spanduk seblang ada di ujung gang dan para pemuda mengatur penitipan sepeda motor maupun parkir mobil. Sebuah hajat kampung sedang berlangsung. Memasuki lorong menuju rumah pembuat Omprok/mahkota untuk sang penari seblang, disini rasa mistis mulai terasa. Sudah banyak anak-anak dan beberapa fotografer yang berkumpul untuk melihat ritual di rumah omprok ini.

Arena dengan cepat penuh dengan penonton

Arena dengan cepat penuh dengan penonton

Rumah berdinding anyaman bambu ( jawa : gedhek ), dengan jendela kaca besar di sisi depan, menjadi saksi proses pembuatan omprok. Memasuki ke rumah yang sempit, di dekat jendela depan ada sebuah dipan dan terlihat omprok tergantung di atasnya, dijagain oleh sang pembuat omprok, seorang ibu tua. Omprok adalah mahkota yang nantinya di pasangkan dikepala seblang, terbuat dari daun pisang muda yang dipotong menyerupai rambut rasta berjuntai hijau muda dan dihiasi beberapa bunga warna merah. Masih terasa suasana lebaran, suguhan kue khas lebaran  tersaji di meja, stoples-stoples kaca antik berisi penganan kacang dan kue khas kampung, dan gelas-gelas minuman warna-warni mengundang selera. Sebuah sambutan ramah dan tawaran untuk makan penganan dan minum membuat kita merasa diterima oleh tuan rumah. Sungguh suasana keramahan yang sudah sulit ditemukan di kota besar. Sesekali  anak-anak masuk dan berkumpul berkeliling melihat omprok dan sesekali fotografer masuk untuk memotret.

Sang penari mulai berlenggok penuh pesona

Sang penari mulai berlenggok penuh pesona

Setelah menunggu sekitar 1,5 jam di rumah pembuat omprok, akhirnya tiba saatnya ritual seblang dimulai. Seorang ibu tua membawa omprok keluar menuju rumah dukun dimana sang penari berada, letaknya tidak jauh dari rumah omprok. Setelah prosesi ritual “menghidupkan” si gadis seblang di dalam rumah sang dukun ( fotografer tidak diperbolehkan meliput ), akhirnya gadis seblang dituntun keluar rumah. Sang seblang sudah menggunakan omprok yang menutupi seluruh wajahnya sehingga tidak terlihat rona mukanya. Seblang yang sudah dalam keadaan kesurupan memulai ritual di jalan depan rumah dukun, sebelum akhirnya di arak ke arena tari di lapangan desa. Sang kepala dukun membaca mantra diiringi dengan asap-asap kemenyan, wangi mistis terserap hidung. Sesekali daun yang menutupi wajah seblang terkuak, tampak wajah anak gadis yang terpejam matanya dan terkesan “kosong”.

Sang sinden melantunkan lagu

Sang sinden melantunkan lagu

Setelah mantra selesai, arak-arakan menuju arena dimulai. Payung kuning selalu memayungi sang seblang yang berjalan di tuntun mengikuti sang dukun yang membawa anglo kecil untuk membakar kemenyan. Warga desa dan anak-anak mengikuti di belakang sang seblang seakan membentuk barisan. Warga desa keluar rumah atau sekadar melongok dari jendela untuk menyaksikan arak-arakan.  Perjalanan arak-arakan melalui gang kampung sejauh sekitar 500 m menuju lapangan desa dimana arena tari sang seblang cilik telah disiapkan.

Di balik panggung

Di balik panggung

Memasuki arena lapangan desa, terlihat sudah ramai oleh warga yang menanti sang seblang, para penjual makanan, penjual mainan anak-anak, dan terlihat pula para tamu undangan. Lapangan pun sudah di sulap, diujung lapangan sebuah arena seblang sudah berdiri dengan diberikan pagar bambu, atap plastic dan hiasan tanaman tebu dan janur kuning; di sebelah panggung tari didirikan tenda khusus untuk para undangan pejabat.

Game vs Seblang

Game vs Seblang

Musik mulai dimainkan menyambut sang seblang, terdengar irama dengan ritme yang berulang-ulang serta nyanyian dari pesindennya. Penonton mulai menyemut mengelilingi arena panggung sementara sang seblang duduk di apit oleh ibu tua. Acara dimulai dengan sambutan oleh perangkat kecamatan Glagah, bercerita tentang pentingnya melestarikan adat budaya. Setelah sambutan usai tarian seblang segera dimulai. Suara music gendhing makin keras bertalu-talu dan sang seblang mulai menari mengikuti sang dukun yang menari berkeliling arena yang bentuknya bulat.

Prosesi sang dukun saat Seblang istirahat

Prosesi sang dukun saat Seblang istirahat

PROSESI TUDINGAN

Tudingan adalah sebuah prosesi ditengah tarian sang seblang, dimana setelah berputar-putar sang seblang akan melempar selendang kearah penonton, bagi penontong yang terlempar/kejatuhan selendang harus naik ke panggung untuk menari bersama seblang. Bagi seseorang yang terkena lemparan selendang dipercayai akan mendapatkan keberuntungan sehingga kebanyakan dengan senang hati naik penggung menari dengan seblang. Lemparan seblang tidak berarti selalu mengarah ke seorang lelaki ( bayangan saya karena seblang seorang gadis tentunya akan memilih seorang lelaki) tetapi beberapa kali terjadi mengarah ke seorang wanita, yang tentunya harus naik panggung untuk menari bersama sang seblang. Jangan pernah menolak ajakan seblang untuk menari, kata warga setempat, karena seblang akan “mengejar-ngejar” sampai yang diinginkan mau menari bersama. Terbukti saat ada seorang wanita dilempar selendang dan menolak untuk menari, akhirnya pingsan dan seperti kerasukan. Setelah si wanita mau menari bersama seblang diatas panggung barulah “tersadar” kembali.

Saatnya kembali ke tersadar

Saatnya kembali ke dunia realita

PROSESI KEMBANG DHERMO

Di tengah acara juga ada prosesi bagi penonton untuk membeli bunga, harga bunga terserah pada kita berapa uang yang akan di dermakan/sumbangkan. Rangkaian bunga terdiri dari 3 kuntum dan ditancapkan di sebilah bambu. Bunga ini dipercayai sebgai penolak bala dan pembawa keberuntungan, sehingga sering ditaruh di rumah maupun di sawah.

Saatnya pulang ke rumah

Saatnya pulang ke rumah

AKHIR ACARA

Setelah acara menari, prosesi tudingan dan prosesi kembang dhermo, akhirnya berakhir setelah kurang lebih berlangsung 3 jam. Pada akhir acara sang seblang disadarkan dari keadaan kesurupan oleh sang dukun dengan di tidurkan di atas tikar di arena tarian. Sambil mengucap mantra-mantra akhirnya sang seblang tersadar dalam kondisi lemah dan di bawa pulang ke sang dukun.

Sang penjaga adat

Sang penjaga adat

Maghrib menjelang, salwati ( 16 tahun ) sang seblang keluar dari rumah sang dukun dan jalan pulang ke rumahnya dengan ditemani kakaknya. Mampir kerumahnya di sebuah sudut jalan, banyak kerabat yang tengah berkumpul dirumahnya. Khas anak gadis yang masih malu-malu, Salwati ditemani oleh adiknya menyapa tamu, lebih banyak senyum saat ditanya daripada menjawab sehingga kakaknya lebih banyak berperan untuk bercerita. Kabarnya inilah tarian terakhir Salwati karena tahun depan sang seblang sudah menginjak remaja dan sudah tidak bisa menjadi seblang lagi.

Salwati dan adiknya

Salwati dan adiknya

Sebuah tarian terakhir sang penerus tradisi serta sebuah tugas tradisi yang telah disandang dan diakhiri dengan baik. Sang penerus yang masih sering dilihat dengan sebelah mata,  suatu saat semangat itu akan meredup dan menghilang ditelan jaman. Akankah?

 
Ucapan Terima kasih :
Keluarga Pak Wien, Banyuwangi
Keluarga Mbok de Marina, banyuwangi
 
Berbagai Sumber :
 ID Wikipedia
Kaukus muda Banyuwangi
Kompasiana Kompas
 
 
Camera :
 Nikon, 14-24 mm, 70-200 mm dan 24 mm
Leica, 18 mm dan 35 mm